Buku Digital yang masih Asing

June 9th, 2009 by ahmad.yunus

Ahmad-Yunus

Berita mengenai kurang dimanfaatkannya buku digital secara maksimal oleh para guru untuk menunjang pembelajaran, seperti yang diberitakan kompas edisi 6 Mei 2009 menarik untuk dicermati.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya bahwa Depdiknas telah membeli hak cipta buku pelajaran untuk kemudian dikonversi menjadi buku digital. Proyek buku digital sendiri dimulai pada tahun ajaran 2008. Tujuan buku digital sendiri adalah untuk penyediaan buku murah di indonesia dan percepatan mutu pendidikan.

Akan tetapi proyek ini juga tak sepi dari kendala dalam realisasinya. Seperti yang diberitakan oleh kompas (6/5) bahwa para guru masih lebih suka memakai buku teks pelajaran karena lebih praktis dan sesuai kebutuhan. Belum lagi jumlah buku teks yang tersedia di Buku Sekolah Elektronik Depdiknas (bse.depdiknas.go.id) masih terbatas dan belum mencukupi kebutuhan pembelajaran di sekolah, semisal buku – buku siwa SMK bidang pekerjaan sosial yang masih sedikit. Di daerah terpencil jauh lebih tragis, buku digital masih menjadi barang yang asing dan banyak guru yang tidak mengetahui tentang buku digital.

Buku Konvensional

Inilah bentuk buku yang biasa kita kenal. Buku yang tercetak dan memakai kertas sebagai bahan bakunya. Buku jenis ini memiliki kelebihan seperti bentuknya yang portabel sehingga dapat dibawa kemana – mana. Buku jenis ini juga bisa ditulisi semisal ingin memberikan catatan tambahan. Berbeda dengan buku digital, buku konvensional tidak membutuhkan pengetahuan dan keahlian tambahan serta alat bantu untuk mengakses dan menggunakannya. Kelebihan inilah yang menjadi alasan guru lebih menyukai buku teks pelajaran ketimbang buku digital. Akan tetapi biaya cetak buku ini mahal sehingga harganya pun relatif mahal.

Buku Digital

Adalah bentuk elektronik atau digital dari buku yang biasanya ada dalam bentuk kertas. Untuk masalah isi sendiri tidak jauh berbeda dengan buku konvensional, sama – sama berisis teks dan gambar. Namun, buku digital ini direkam secara elektronik dan disimpan sebagai data dalam komputer.

Kelebihan buku digital adalah dapat memuat banyak informasi dibandingkan buku konvensional. Buku digital juga mudah dalam menyimpan data, bisa disimpan dalam bentuk cakram atau alat penyimpan lainnya. Selain itu, buku digital mudah untuk diduplikasi serta mudah untuk disebarkan.

Akan tetapi buku digital juga memiliki kekurangan. Sebagai buku elektronik, buku digital membutuhkan alat bantu semisal komputer yang harganya lumayan serta pengetahuan dan keahlian tambahan untuk mengakses dan menggunakannya. Membaca buku digital lewat komputer sudah pasti membuat mata lelah, maka PDA (Personal Data Adapter) bisa membatu. Bentuk PDA yang kecil dan ringan memudahkan orang untuk membawanya kemanapun. Huruf di dalam PDA juga bisa diperbesar atau diperkecil sesuai kebutuhan. Sayangnya harga PDA masih mahal, sehingga hanya mampu dimiliki kalangan tertentu.

Beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai solusi

Buku digital yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 2008 bertujuan untuk penyediaan buku murah di indonesia dan percepatan serta pemerataan mutu pendidikan. Memang masih belum sesuai harapan. Akan tetapi proyek ini adalah sebuah inovasi yang visioner guna memajukan dunia pendidikan kita. Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan oleh depdiknas sebagai solusi adalah:

Pertama. Penulis menyoroti sosialisasi yang telah dilakukan Depdiknas terkait proyek buku digital. Sosialisai yang telah dilakukan kurang memuaskan. Karena masih banyak guru di daerah terpencil yang masih asing dengan buku digital, bahkan tidak tahu sama sekali. Karena itu perlu sosialisasi yang lebih masif lagi baik melalui media online maupun offline. Jika diperlukan juga membuat buku katalog dan buku panduan tentang buku digital.

Kedua. Masih banyak guru yang tidak bisa menggunakan komputer, apalagi internet. Sedangkan untuk mengakses dan menggunakan buku digital diperlukan pengetahuan dan keahlian tambahan. Melihat kondisi ini perlu adanya pelatihan komputer untuk para guru. Dengan pelatihan seperti itu diharapkan para guru bisa menggunakan komputer dan bisa mengakses serta menggunakan buku digital untuk menunjang proses belajar.

Ketiga. Buku digital adalah jenis buku yang terbacakan mesin. Untuk itu perlu juga dipikirkan pengadaan alat pembacanya, misal komputer dengan perangkat lunaknya.

Keempat. Perpustakaan sekolah juga dapat diberdayakan untuk penggunaan buku digital. Perpustakaan bisa berperan aktif dengan menyediakan komputer yang sudah berisi program dan buku digital, sehingga ketika guru atau murid ingin mengakses dan menggunakan buku digital bisa terlayani. Pustakawan juga bisa berperan sebagai pemandu ketika pengguna perpustakaan tidak tahu bagaimana cara mengakses dan menggunakan buku digital yang telah disediakan oleh mereka. Selain itu juga, perpustakaan bisa menduplikasi buku digital dalam bentuk lain, semisal cakram untuk dipinjamkan atau dikopi isinya oleh si pengguna.

Buku digital memang tidak akan dapat menggantikan secara total peran buku dan perpustakaan konvensional dikarenakan kelebihan dan kelemahan yang ada. Namun buku digital dapat melengkapi buku dan perpustakaan nasional. Inavoasi yang dilakukan Depdiknas dengan menyediakan buku digital yang bisa diunduh secara gratis adalah sebuah terobosan penting untuk memajukan dunia pendidikan kita. Perlu adanya evaluasi menyeluruh mengenai proyek buku digital ini agar kedepan langkah yang diambil oleh pemerintah bisa lebih tepat sasaran.

Universitas Indonesia
Universitas Indonesia

Literasi Informasi (catatan kecil)

May 29th, 2009 by ahmad.yunus

  1. Definisi Literasi Informasi

Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan infromasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi infromasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia.

Pengertian literasi informasi yang sering dikutip adalah penegrtian literasi informasi dari American Library Association (ALA) :

information literacy is a set of abilities requiring individuals to “recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effective needed information”.

Artinya, literasi informasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkannya, mengakses dan menemukan informasi, mengevaluasi informasi, dan menggunakan informasi seara efektif dan etis. (dalam Naibaho, 2007: 7-8)

  1. Pemberdayaan Masyarakat

Dapat dikatakan bahwa program literasi informasi sebenarnya adalah program pemberdayaan masyarakat. menurut Pendit (2008:119) kemampuan – kemampuan masyarakat pengguna yang ingin diberdayakan adalah:

1. Menetapkan hakikat tentang rentang informasi yang dibutuhkan

2. Mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien

3. Mengevaluasi informasi dan sumbernya secara kritis

4. Menggunakan informasi untuk keperluan tertentu

  1. Information Literet

Zurkowski, orang pertama yang menggunakan konsep literasi informasi menyatakan bahwa orang yang terlatih untuk menggunakan sumber-sumber informasi dalam menyelesaikan tugas mereka disebut orang yang melek informasi (information literate). Mereka telah mempelajari teknik dan kemampuan menggunakan alat-alat dan sumber utama informasi dalam pemecahan masalah mereka (Behrens dalam Naibaho, 2007 : 6).

Konsep ini didukung oleh Burchinal dengan mengatakan : “Untuk menjadi orang yang melek informasi, dibutuhkan serangkaian keahlian, antara lain bagaimana cara mencari dan menggunakan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara efektif dan efisien (Burchinal dalam Naibaho, 2007 : 6).

Universitas Indonesia

Perpustakaan dan Manusia

March 20th, 2009 by ahmad.yunus

 

Perpustakaan dan Manusia

oleh: Ahmad-Yunus

Perpustakaan sebagai rangkaian sejarah masa lalu merupakan hasil budaya umat manusia yang sangat tinggi. Dengan perpustakaan harta dari masa lalu dalam wujud karya sastra, buah pikiran, filsafat, teknologi, persitiwa – peristiwa besar sejarah umat manusia dan ilmu pengetahuan lainnya dapat dipelajari, dihayati, dan diungkapkan kembali pada masa sekarang. Melalui sumber bacaan dan ilmu pengetahuan di perpustakaan kita tinggal meneruskan dan mengembangkannya.

Perpustakaan juga merupakan akar berpijak sekarang untuk kemudian melangkah ke masa depan. Dalam kehidupan yang serba cepat ini, semua orang membutuhkan informasi sebagai hal yang sangat hakiki. Tanpa informasi, atau seandainya kita ketinggalan informasi, dapat menyebabkan masyarakat jadi tersisih dan terbelakang. Di sinilah peran perpustakaan yang sangat besar. Perpustakaan menjadi pusat informasi dan sumber ilmu pengetahuan yang tak habis – habisnya untuk digali, ditimba dan dikembangkan. Melalui perpustakaan kita dapat saling tukar – menukar informasi, saling menambah dan memperkaya, saling menguji, dan saling memperoleh nilai tambah untuk perkebangan zaman.

Perpustakaan atau library didefinisikan sebagai: tempat buku-buku yang diatur untuk dibaca dan dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan ( The Oxford English Dictionary). Istilah perpustakaan juga diartikan sebagai: pusat media, pusat belajar, sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan (The American Library Association).

Dalam undang – undang perpustakaan No. 43 tahun 2007, Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Hakikat perpustakaan dari definisi tersebut merupakan satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional (Rohanda)

Perpustakaan masyarakat adalah bahwa keberadaan sebuah perpustakaan di dalam masyarakat atas kehendak, keinginan, dan sepenuhnya dipergunakan untuk membantu kebutuhan dan kehidupan mereka sehari – hari.

Setiap orang di perpustakaan dapat mengembangkan dirinya dengan semangat belajar secara terus – menerus tanpa terikat dengan pendidikan formal. Manfaat yang penting adalah memperoleh kesenangan, rekreasi dan kepuasan batin yang tak ditemukan di tempat yang lain. (Ibrahim Bafadal:1992)

Karena pada hakikatnya perpustakaan dibangun adalah untuk melayani masyarakat, terutama dibidang informasi, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Sedangkan masyarakat membutuhkan layanan tersebut dapat pergi ke perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan dan berbagai fasilitas yang tersedia.

Perpustakaan akan ada artinya jika dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Sebaliknya masyarakat akan memakai perpustakaan manakali dilayani dengan baik dan memperoleh nilai tambah sebagaimana yang mereka inginkan. Jadi antara perpustakaan dan masyarakat harus ada kerja sama yang harmonis, karena keduanya memang saling membutuhkan. (Sutarno NS, 2003)

Secara singkat dapat dikatakan bahwa perpustakaan menjadi rantai sejarah bagi mas alalu, pijakan bagi kehidupan masa sekarang, dan pembimbing untuk melangkah ke masa depan. (Membina Perpustakaan Sekolah:1987).

 

 

Universitas Indonesia

FUNGSI DAN PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

March 20th, 2009 by ahmad.yunus

FUNGSI DAN PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH


Oleh Drs. Rohanda, Msi

Disampaikan dalama rangka seminar sehari Ikatan Pustakawan Indonesia
Pustakawan dan Guru

Tanggal  16 September 2000

 

 

I.                    Pendahuluan

 

Apabila kita memasuki suatu perpustakaan, yang kita lihat pertama adalah jajaran buku dan bahan pustaka lain yang diatur secara rapih di rak buku,rak majalah, maupun rak-rak bahan pustaka lain.

Bahan-bahan pustaka tersebut diatur menurut suatu sistem tertentu sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk menemukan kembali bahan pustaka yang diperlukan.

Pertanyaan yang timbul pada diri kita adala apakah setiap jajaran buku dan bahan pustaka lain yang diatur secara sistematis boleh disebut perpustakaan? Atau dengan kata lain, apakah sebenarnya perpustakaan itu?

Banyak batasan atau pengertian tentang perpustakaan yang disampaikan oleh para pakar di bidang perpustakaan. Anda dapat mempelajari beberapa pengertian perpustakaan seperti di bawah ini :

·        Menurut kamus “ The Oxford English Dictionary”,kata “library” atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1374, yang berarti sebagai “ suatu tempat buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan”.

·        Pengertian perpustakaan ini pada abad ke-19 berkembang menjadi “ suatu gedung,ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yanng dipelihara dengan baik,dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu.

·        Dalam perkembangannya lebih lanjut, pengertian perpustakaan memperoleh penghargaan yang tinggi, bukan sekadar suatu gedung yang berisi koleksi buku yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

·        Pada tahun 1970, The American Library Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian “ pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan “.

·        Dalam pengertiannya yang mutakhir, seperti yang tercantum dalam Keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa “ perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

 

Pengertian perpustakaan yang mutakhir ini telah mengarahkan kepada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustakan; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan; serta tujuan perpustakaan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.

 

Adapun pengertian perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggunng jawabnya kepada kepala sekolah; yang melayani sivitas akademka sekolah yang bersangkutan.

 

II.                 FUNGSI PERPUSTAKAAN

 

Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka. Bahan pustaka yang dimaksud merupakan hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Dalam pengertian perpustakaan yang mutakhir ini juga tersirat fungsi perpustakaan pada umunya, yaitu sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan. Namun secara khusus,setiap jenis perpustakaan mempunyai fungsi masing-masing ,yang berbeda antara yang satu dan lainnya. Fungsi Perpustakaan Nasional RI berbeda dengan fungsi Perpustakaan Umum,fungsi Perpustakan Daerah berbeda dengan Perpustakaan Sekolah,fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi berbeda dengan fungsi Perpustakaan Khusus/Dinas. Karenanya berbeda-beda, maka masing-msing perpustakaan memiliki tujuan yang berbeda-beda pula yang harus dicapai oleh masing-masing jenis perpustakaan.

Marilah sekarang kita tinjau satu-persatu fungsi-fungsi perpustakaan menurut jenisnya.

 

Perpustakaan Nasional RI, menurut Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989,pasal 3 ,menyelenggarakan fungsi :

a.membantu Presiden dalam rangka merumuskan kebijaksanaan mengenai pengmbangan,pembinaan dan pendayagunaan perpustakaan.

b. melaksanakan pengembangan tenaga perpustakaan dan kerjadsama antara badan/lembaga termsuk perpustakaan didalam maupun diluar negeri

c. melaksanakan pembinaan atas semua ejnis perpustakaan di instansi/lembaga pemerintah maupun swasta yang ada dipusat ataupun didaerah

d. melaksanakan pengumpulan,penyimpanan, dan pengolahan bahan pustaka dari dalam dan luar negeri

e. melaksanakan jasa perpustakaan, perawatan danpelestarian bahan pustaka

f. melaksanakan penyusunan naskah bibliografi nasional dan katalog induk nasional

g. malaksanakan penyusunan bahan rujukan berupa indeks,bibliografi,subyek,abstrak dan penyususnan perangkat lumak bibiliografi.

h. melaksanakan jasa koleksi rujukan dan naskah

j. melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh Presiden

 

1.      Fungsi Perpustakaan Daerah

 

Disamping,Perpustakaan Daerah yang merupakan suatu organaisasi dilingkungan Perpustakaan Nasional RI yang berada di daerah , menurut Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI nomor 001/Org/9/1990, tentang Organisasi dan Tata Kerja Perpustakaan Nasional RI, mempunyai fungsi :

a.       mempersiapkan bahan perumusan kebijaksanaan pembinaan dan pengembangan perustakaan di daerah.

b.      melaksanakan pembinaan dan pengembangan pada semua jenis perpustakaan di daerah

c.       melaksanakan pengeumpulan, penyimpanan, dan pengolahan bahan pustaka

d.      melaksanakan jasa perpustakaan, perawatan dan pelestarian bahan pustaka

e.       melaksanakan penyususnan dan penerbitan bibliobgrafi daerah dan katalog induk daerah

f.        melaksanakan penyususnan bahan rujukan berupa indeks,bibliografi,subyek, abstrak dan direktori

g.       melaksanakan jasa informasi dan rujukan (referensi)

h.       melaksanakan kerja sama antar perpustakaan di daerah

i.         melaksanakan koordinasi dan evaluasi kegiatan perpustakaan di daerah

j.        melaksanakan urusan ketatausahaan

 

2.      Fungsi Perpustakaan Umum dan Keliling

 

Perpustakaan Umum baik yang berada di Daerah Tingkat II (Ibukota Kabupaten/Kotamadya), di ibukota kecamatan maupun yang berada di desa, menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 9 tahun 1988 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 21 tahun 1988, mempunyai fungsi :

a.       menghimpun dan mengolah bahan pustaka dan informasi

b.      memelihara danmelestarikan bahan pustaka dan informasi

c.       mengatur dan mendayagunakan bahan pustaka dan informsi, sebagai pusat kegiatan belajar, pelayanan informasi, penelitian dan menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca bagi seluruh lapisan masyarakat

 

Perpustakaan Keliling berfungsi sebagai perpustakaan umum yang melayani kebutuhan informasi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan umum. Pada hakikatnya fungsi Perpustakaan Keliling sama dengan Perpustakaan Umum . Perpustakaan Keliling merupakan kepanjangan layanan Peprustakaan Umum.

 

3.      Fungsi Perpustakaan Sekolah

 

Perpustakaan Sekolah menurut Keputusan Menteri Pendidiknan dan Kebudayaan nomor 0103/O/1981, tanggal 11 Maret 1981, mempunyai fungsi sebagai :

a.       Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah

b.       Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.

c.       Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan)

Semua fungsi tersebut akan tergambar dalam koleksi pepustakaan bersangkutan.

 

 

III.               ASPEK-ASPEK PEMBINAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

 

1.      Aspek Status, Ogranisasi dan Manajemen

 

Sampai saar ini status beberap jenis perpustakaan ,seperti perpustakaan khusus,perpustakaan sekolah, perpustakaan perpguruan tinggi dan lain-lain, belum jelas, khususnya tentang eselonisasinya. Hal ini mengakibatkan tidak jelas pula aspek-aspek lainnya, misalnya berapa luas gedung/ruangannya, berapa banyak pustakawannya, berapa banyak koleksinya dan lain-lain. Oleh karena itu status beberapa  jenis perpustakaan masih menjadi masalah yang perlu diperjuangkan. Yang statusnya telah jelas adalah Perpustakaan Nasional RI (eselon I), Perpustakaan  Daerah (eselon II) dan Perpustakaan Umum Dati II (eselon IV).

Karena status masih belum jelas maka organisasinya juga menjadi masalah sehingga organisasi perpustkaan dalam Undang-undang Perpustakaan yang akan datang dapat disusun meliputi:

1.      Kepala Perpustakaan (unsur pimpinan)

2.      Petugas tata usaha perpustakaan ( unusur pembantu pimpinan)

3.      Unsur pelaksana yang terdiri atas:

a)      Petugas pengadaan/pengolahan baha pustaka

b)      Petugas pelayanan (sirkulasi dan referensi)

c)      Petugas penyuluhan/pemasyarakatan

d)      Petugas penelitian dan pengembangan

 

Manajemen perpustakaan fungsi kegiatannya meliputi perencanaan,pengorganisasian,penggerakan , dan pengawasan (POAC= Planning, Organization,Actuating dan Controlling)

Dalam perencanaan kepala perpustakaan dapat menggungakan prinsip-prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS atau Mangement By Objectives (MBO).

 

2.      Aspek Ketenagaan

 

Keberhasilan suatu perpustakaan diukur berdasarkan tinggi rendahnya kemempuan perpustakaan tersebut dalam melaksanakan fungsinya sebagai pusat kegiatan belajar mandiri serta pusat pelayanan informasi, penelitian dan rekreasi masyarakat sekelilingnya. Untuk itu sebuah perpustakaan dari segi fisiknya memerlukan pembinaan yang tepat, yang memperhatikan perpaduan aspek lokasi gedung ruangan dan  koleksi bahan pustaka agar serasi, selaras dan seimbang dengan baik. Tidak boleh terjadi alur kerja terhambat karena masalah ruang. Ini berarti bahwa petugas perpustakaan harus dapat mengatur ruang sedemikian rupa sesuai dengan kondisi yang ada. Hal ini teruta

 

 

IV.PENUTUP

 

Perpustakaan Sekolah merupakan unit kerja dan sebagai perangkat mutlak (complement) dari sekolah yang bersangkutan. Dengan tujuan menyediakan koleksi pustakan untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Dikatakan juga bahawa perpustakaan tersebut sebagai “jantungnya” pelaksanaan pendidikan pada lembaga itu.

Sedangkan fungsi utamanya yaitu sebagai pusat sumber belajar,pusat sumber informasi dan pusat bacaan rekreasi dan pengisi waktu senggang. Untuk selanjutnya perpustakaan itu sebagai tempat membina minat dan bakat siswa, menuju belajar sepanjang hayat (Long Life Education)

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

MUJITO, Pembinaan Minat Baca, Jakarta : Universitas Terbuka,1993

MARTOATMOJO,Karmidi. Manajemen Perpustakaan Khusus. Jakarta: Universitas Terbuka, 1997

———————————-. Pelayanan Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka, 1993

SULISTYO,Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan: Universitas Terbuka, 1993

 

 

Universitas Indonesia